sajak

Minggu, 03 Januari 2016

111 Pohon Setiap 1 Bayi Perempuan Lahir

Desa Piplantri di India punya tradisi unik. Setiap  kelahiran bayi perempuan, penduduk menanam 111 pohon. Dan lebih jauh, kita bukan hanya terinspirasi oleh gerakan penghijauan dan menghargai kaum perempuan. Ada banyak lagi yang bisa dipelajari.
Kisahnya berawal oleh rasa berkabung  Shyam Sundar Paliwal saat putrinya, Kiran berpulang. Rasa duka ini justru menimbulkan gagasan agar masyarakat lebih menghargai kaum perempuan dan anak-anak, terutama anak perempuan. Di India, kekerasan terhadap kaum perempuan begitu tinggi. Perkosaan, pembunuhan, dan pelecehan lain sering terjadi
Kekuatiran terhadap pemanasan global sedikit banyak juga memengaruhi kondisi lingkungan di desa Piplantri. Akhirnya, Paliwal pun menggagas agar penduduk desanya menanam 111 pohon setiap bayi perempun dilahirkan. Dengan cara inilah masyarakat bisa tetap menjaga lingkungan tetap hijau. Penanaman pohon juga menjadi simbol agar lebih menghormati kaum perempuan.
"Kami juga membuat para orang tua menandatangani perjanjian, akan menikahkan putri mereka di usia legal, menyekolahkan mereka, serta menjaga pohon yang mereka tanam atas nama putri mereka," papar Paliwal.
Bagi mereka, menanam pohon atas kelahiran sang anak akan sangat bermanfaat bagi masa depan anak-anaknya. Oleh karena itu mereka menanam ratusan pohon buah-buahan. Selain itu, mereka juga mengumpulkan uang bagi si kecil sejumlah $ 380 atau sekitar Rp 3,8 juta.
Ada 8000 penduduk di desa Piplantri, dan setidaknya 60 bayi perempuan dilahirkan setiap tahun. Tradisi 111 pohon ini sendiri telah berlangsung lebih dari 6 tahun. Artinya, sudah banyak pohon yang ditanam. Tak hanya itu, jumlah pohon semakin bertambah dengan diberlakukannya peraturan lain, yakni menanam 11 pohon setiap ada penduduk yang meninggal.
Patut diketahui, guna menjaga kelangsungan hidup setiap pohon dari penebang liar, masyarakat juga menanam lidah buaya di sekeliling pepohonan yang ada. Bisa dibayangkan, kini begitu banyak tumbuhan tersebut di desa Piplantri. Hal ini mendatangkan peluang baru bagi penduduk.
"Kini penduduk membuat dan memasarkan produk dari hasil olahan lidah buaya," ungkap Paliwal. Ya, tradisi 111 pohon telah mendatangkan banyak manfaat bagi mereka. Apakah Anda terinspirasi membuat gerakan serupa?

(apakabardunia)

Letusan Krakatau 1883



Letusan Krakatau 1883 terjadi di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), yang bermula pada tanggal 26 Agustus 1883 (dengan gejala pada awal Mei) dan berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan kaldera. Pada tanggal 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya. Aktivitas seismik tetap berlangsung hingga Februari 1884. Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.
Letusan ini juga memiliki kekuatan yang sangat dahsyat yaitu sekuat 200 Megaton TNT, 10.000 kali lebih dahsyat daripada ledakan bom atom Hiroshima pada tahun 1945 yang hanya sekuat 20 Kiloton TNT.
Gelombang tekanan yang dihasilkan oleh letusan kolosal keempat dan terakhir terpancar keluar dari Krakatau hingga ketinggian 1,086 km/h (675 mph).[5]:248 Letusan tersebut begitu kuat sehingga memecahkan gendang telinga para pelaut yang sedang berlayar di Selat Sunda dan menyebabkan lonjakan tekanan lebih dari 2½ inci merkuri (ca 85 hPa) pada alat pengukur tekanan yang terpasang di Batavia. Gelombang tekanan terpancar dan tercatat oleh barograf di seluruh dunia, yang tetap terjadi hingga 5 hari setelah letusan. Rekaman barografis menunjukkan bahwa gelombang kejut dari letusan terakhir bergema ke seluruh dunia sebanyak 7 kali. Ketinggian kabut asap diperkirakan mencapai 80 km (50 mil). Letusan mulai berkurang setelah itu, dan pada pagi 28 Agustus, Krakatau terdiam. Letusan kecil, sebagian besarnya mengeluarkan lumpur, tetap berlanjut hingga Oktober 1883.
Pada tengah hari tanggal 27 Agustus 1883, hujan abu panas turun di Ketimbang (sekarang Katibung, Lampung). Kurang lebih 1.000 orang tewas akibat hujan abu ini. Kombinasi aliran piroklastik, abu vulkanik, dan tsunami juga berdampak besar terhadap wilayah di sekitar Krakatau. Tak satupun yang selamat dari total 3.000 orang penduduk pulau Sebesi, yang jaraknya sekitar 13 km (8.1 mil) dari Krakatau. Aliran piroklastik menewaskan kurang lebih 1.000 orang di Ketimbang dan di pesisir Sumatera yang berjarak 40 km (25 mil) di sebelah utara Krakatau. Jumlah korban jiwa yang dicatat oleh pemerintah Hindia Belanda adalah 36.417, namun beberapa sumber menyatakan bahwa jumlah korban jiwa melebihi 120.000.

Kapal-kapal yang berlayar jauh hingga ke Afrika Selatan juga melaporkan guncangan tsunami, dan mayat para korban terapung di lautan berbulan-bulan setelah kejadian. Kota Merak, Banten luluh lantak oleh tsunami, serta kota-kota di sepanjang pantai utara Sumatera hingga 40 km (25 mil) jauhnya ke daratan. Akibat letusan Krakatau, pulau-pulau di Kepulauan Krakatau hampir seluruhnya menghilang, kecuali tiga pulau di selatan. Gunung api kerucut Rakata terpisah di sepanjang tebing vertikal, menyisakan kaldera sedalam 250-metre (820 ft). Dari dua pulau di utara, hanya pulau berbatu bernama Bootsmansrots yang tersisa; Poolsche Hoed juga menghilang sepenuhynya.

Kamis, 31 Desember 2015

DUNIA

Hanya emosi yang bisa berkata
Untuk mengutarakan apa yang anda rasa!!!
Jangan berkata semena-mena
Dikala anda sedang berduka.

Orang-orang berjalan di seputaran angkara murka
Dengan segala kebohongan orang itu menjalaninya
Dengan kemunafikan ia terus meraja lela
Agar dirinya aman dari segala ancaman dunia.

Hidup ini penuh makna wahai saudara
Ada cerita di balik cerita
Yang memaksa kita untuk berkata
Ini dunia nyata bukan sekedar mimpi belaka..

Jalanan masih terbuka untuk bisa membawa mu pergi
Pergi dari dunia yang membuat mu sepi
Merana dengan segenap rasa yang sunyi
Agar engkau bisa belajar berinteraksi dengan diri sendiri.

Cobalah untuk mengerti
Tak ada luka yang abadi dalam hidup ini
Kecuali hati memang suka akan dengki
Melihat neraka dunia yang terus engkau jalani.
Bersabarlah dengan kondisi
Agar engkau dapat memahami
Mengapa dunia menghakimi
Hati yang sepi dan berdiri.

Jangan mencari kawan yg membuat anda merasa nyaman, tetapi carilah kawan yg memaksa anda terus berkembang untuk menjamu masa depan yang indah...

Banda Aceh, 04 November 2014

Oleh Hadi Suwanda

BIMBANG

Mata terjaga penuh asa .
Raga meronta ingin lari tak tau kemana ?
Jiwa bimbang dilanda dilema.
Apa pertanda dari sebuah rasa ?

Darah mendesir mengaliri hati .
Jantung berdebar seakan hendak berhenti ,
Mengetuk-ngetuk dada dengan lantang dan berbunyi .
Hati bertanya apa yang terhadi ?

Pukulan-pukulan itu terus berbunyi .
Menakuti segala inspirasi dan persepsi.
Malam nan riuh dengan teriakan angin dan dentuman hujan menjadi sunyi.
Apa kah ini ada pertanda dari sebuah arti ?

Aku tak mengerti .
Rasa ini kian menyakiti .
Penuh sesak dan benci .
Semoga rasa ini bisa berhenti .
Ketika mentari menyapa pagi.

Banda Aceh, 04 November 2014

Oleh Hadi Suwanda


YANG KU RINDU

Sejenak mata melirik kedalam lamunan
Terbayang rindu yang dalam kepada rumah dan keluarga
Suasana yang membawa kenyamanan dan ketentraman
Tak terlepas dari semua aktivitas yang berkesan dan berguna

Waktu kecil dahulu
Rumah merupakan tempat ternyaman dalam hidup
Melewati hari dengan senyum dan kebahagian
Tak bosan-bosan aku tidur dan terlelap di dalamnya

Senja di lalui dengan kumandang azhan maghrib yang merdu di dekat rumah
Malam di lewati dengan keluarga dengan santapan ikan asin, tersasi dan sayur mayur
Pagi terdengar suara gaduh dirumah di mana seisi rumah memulai aktivitasnya
Dan siang dilalui dengan penuh kenyaman di saat beristirahat santai

Ibu aku rindu pada mu
Ayah aku rindu akan nasehatmu
Di rantau ini aku merasakan tanggung jawab yang selama ini kau emban
Dirantau ini aku menjadi seorang ayah dan seorang ibu bagi diri saya sendiri .

Di sini aku memasak untuk perut ku sendiri
Yang selama ini menjadi tugas mu ibu
Disini aku berjalan sendiri untuk kepentingan ku sendiri
Yang selama ini yang ayah lakukan untuk menafkahi aku

Sekarang aku mengerti
Mengapa engkau selalu berpesan kepadaku
Agar aku menjadi dewasa dalam hari ku
Agar aku menjadi yang terbaik dalam hidupku.

Banda Aceh, 04 November 2014

Oleh Hadi Suwanda


MOTTO KU

Aku berlari di antara halang rintang yang menderu
Aku terhempas dan terjatuh itu sudah resiko ku
Aku lelah dan letih dalam malam ku
Namun kaki ku melangkah melewati itu

Sunyi, sepi, gelap, sendiri dan lapar
Merupakan ciri khas ku
Tidak berhenti walau mati
Dan tidak lari dari tintangan itu

Waktu dan resiko
Merupakan langkah kakiku
Menapak dengan lantang
Dan melangkah dengan tenang

Sejalan dengan pendapat
Selangkah dengan tekat
Mengerang dengan kuat
Berlari dengan semangat

Itu lah aku
Dengan segala kekurangan ku
Tak henti walau ragu
Mencoba dengan haru

Banda Aceh, 04November 2014

Oleh Hadi Suwanda




NEGERI KU


Alangkah indah negeri ku
Penuh warna dan penuh cerita haru
Namun semua bahagia dan bersatu
Satu raga dan satu jiwa di Indonesia ku

Lika-liku waktu sudah berlalu
Nikmati masa depan akan menderu
Sedih senang sudah menjadi pilu
Tak ragu aku katakan itu

Ini suatu apresiasi untuk Negeri ku
Agar cepat berbenah untuk maju
Tak luput dari kata doa dan usaha ku
Yang selalu berniang dalam tubuh ku

Banda Aceh, 04 November 2014

Oleh Hadi Suwanda